Kamis, 18 Februari 2016

Ghaida Twins





F
 aris dan Farisha adalah saudara kembar yang ditakdirkan hidup berpisah sejak kecil. Faris tumbuh dalam keluarga kaya, sementara Farisha hidup dengan neneknya yang sudah tua renta dikampung. Suatu waktu neneknya memberi tahu Farisha kalau dia memiliki saudara kembar laki-laki, neneknya memberikan sebuah kotak berwarna coklat. Didalamnya terdapat berbagai foto yang menggambarkan kenangan mereka berdua waktu kecil. Neneknya menginginkan Farisha pergi ke kota untuk mencari keberadaan kakanya untuk mengantarkan sepucuk surat dari sang nenek untuk kakanya. Farisha pun enggan menolak, karena itu permintaan nenek yang sangat ia sayangi sekaligus satu-satunya keluarga yang ia miliki sebelum ia menemukan kakanya, Faris.

Kota yang sibuk, banyak kendaraan berlalu lalang. Orang-orang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Rasa egois dimana orang-orang hampir tak peduli dengan orang lain. Kota yang besar, tak menyurutkan niat Farisha untuk bertemu dengan kakaknya, dengan bermodalkan alamat yang ia dapatkan dari sang nenek. Perlahan ia mulai melangkah dari stasiun kota, menyusuri setiap jalanan di kota besar itu. Ketika sampai di sebuah jalan bertuliskan jalan Sutan Syahrir, ia melihat di tepi jalanan yang sepi ada seorang gadis dengan dua laki-laki bertubuh sedang dengan mengenakan jaket kulit hitam. Setelah ia perhatikan dengan seksama, ternyata gadis itu tengah di todong oleh seorang preman. Tanpa pikir panjang Farisha berlari kearah mereka dengan berbekal ilmu bela diri yang ia dapatkan dari kampung tempat tinggalnya. Tanpa rasa takut, Farisha menendang punggung perampok itu hingga terjatuh tersungkur kedepan, namun belum sempat terjatuh perampok yang satunya dapat menangkap tubuh temannya. “Hey Lo! Berani Lo!” teriak perampok. “Maju sini kalo berani!”. Tantang Farisha sambil menyincingkan lengan panjangnya sampai ke siku, kemudian bergaya kuda-kuda siap menghantap pukulan. “Haha..” perampok itu tertawa meremehkan Farisha. “Cuman anak perempuan ingusan. Eh Lo, minggir Lo”. Farisha tak pantang menyerah, “Kenapa? Heh. Beraninya sama anak perempuan. Cemen!” Farisha balas mengejek. Kedua perampok itu pun semakin geram. “Sialan Lo. Ayo serang!” mereka berlari bersamaan kearah Farisha yang jaraknya hanya 5 meter saja. “Kyaaa” teriak Farisha mengeluarkan jurus-jurus jitunya. “Buukk”, “Sreettt”, “Paakk”, “Braakkk” perkelahian sedang berlangsung. Meskipun Farisha mendapat pukulan di bibirnya hingga mengeluarkan darah tapi ia berhasil mengusir para perampok itu. Namun gadis yang di tolongnya tadi malah sudah tidak ada di tempat. Farisha pun melanjutkan perjalanannya dengan menganggap bahwa kejadian barusan tidak pernah terjadi. Saat Farisha berjalan tertatih menahan rasa sakit, tiba-tiba ada seseorang yang menyekap mulutnya dengan tisu yang sudah diberi obat bius. Membuat tubuh Farisha merasa tidak memiliki tenaga lagi untuk melawannya. Namun ia masih dapat merasakan kalau ia di bawa oleh beberapa orang ke sebuah mobil dan mendudukan badannya dengan hati-hati di kursi belakang. Smar-samar ia mendengar suara yang tidak begitu dapat ia mengerti. “Ya Tuhan.. apapun yang terjadi pada ku saat ini, aku mohon lindungilah aku. Karena niatku di sini baik Tuhan. hamba mohon hanya kepada-Mu” Farisha berdoa didalam hatinya dan menyerahkan semuanya kepada Sang Pencipta.

Saat tersadar namun belum sepenuhnya pulih, Farisha melihat sekeliling. Didapatinya sebuah jendela kaca besar dengan tirai yang menutupi separuhnya. Menghalangi cahaya senja masuk kedalam ruangan. Di pojokan ruangan terlihat mencolok dengan sebuah gitar yang berdiri bersandar pada tempatnya. Dalam pikirannya sesuatu telah terjadi padanya yang membawanya sampai pada tempat ini. di rasanya tubuh yang terbaring di kasur yang empuk, tangannya meraba-raba tubuhnya sendiri untuk memastikan tidak ada yang hilang dari dirinya satupun, ia pun merasa lega dan sedikit menghela nafasnya. “Klek” suara pintu terbuka. “Hah seseorang datang” ujarnya dalam hati. “tapi aku harus bagaimana?” Farisha kebingungan. Mencari tempat persembunyian. Namun sayang, belum sempat ia menemukaknnya seseorang membawa nampan berisi makanan. Belum sempat ia langsung menendang nampan itu dengan jurus bela dirinya hingga terjatuh semua yang ada diatas nampan tersebut. Tanpa membuang kesempatan, Farisha berlari keluar, menuruni tangga rumah ke lantai bawah. Dengan mengendap-endap seperti cicak yang hendak memakan mangsanya, namun tetap waspada. Ia mencoba mencari pintu keluar. “Wah rumah ini besar sekali” ujarnya. “tapi kenapa aku bisa berada di tempat sebesar ini? Ah.. bodo amat, yang penting aku bisa keluar dari rumah yang ngga jelas ini.” tekadnya sudah bulat. Nyalinya sudah kuat. Terus mencari dan cari hingga akhirnya ia menemukan pintu keluarnya. “Ah itu dia.” Tanpa pikir panjang iapun berlari menuju kearah pintu itu, tanpa ia sadari seseorang kini tengah memperhatikannya dari tempat lain.

“tutup gerbangnya sekarang” kata seorang pria pada sebuah alat komunikasi seperti walkytalky. Mendengar perintah tuannya penjaga gerbangpun dengan cepat menutup pintu gerbang. “Loh.. loh.. aduhh.. jangan.. aku mohon jangan nutup dulu dong..” ujar Farisha sambil terus berlari dengan sembunyi-sembunyi menuju gerbang. Namun sial bukan kepalang, kesempatan kabur pun hanya 1% saja karena gerbangnya sudah tertutup. “penjaga, tolong bawa dia. Eits.. tapi hati-hai.” Kata seorang pria yang sedari tadi memperhatikan Farisha dari layar monitor di suatu tempat. “Baik” jawab mereka setelah mendengar perintah kemudian langsung melaksanakannya. “Nona, ayo ikut kami.” Para penjaga pun hendak membawa masuk kembali Farisha. “Eitss.. mau apa kalian! Kalau berani maju sini!” farisha bersiap-siap dengan gaya kuda-kudanya. “Sudah ayo cepat! Jika kau ingin selamat.” Ancam kedua penjaga itu. “saya tidak takut. Jangan sentuh saya!” setelah perdebatan panjang yang diakhiri dengan perkelahian dan dimenagkan oleh Farisha. Seseorang keluar dari pintu masuk rumah besar itu yang tengah berjalan kearahnya bersama neneknya, “nene..” Farisha kaget melihat neneknya kenapa tiba-tiba ada disana. Dari mana mereka tahu dimana kami tinggal, bagaimana mereka tahu aku punya nenek. Farisha semakin berpikir ngaco, ia tidak mengerti apa yang sebenarnya yang terjadi. Neneknya tampak menggenggam sebuah tangan seseorang disampingnya, Farusha pun memperhatikan dengan seksama dan penuh tanya. “Siapa dia?” Bagaimana? Mengapa?” ia terus bertanya-tanya. “Sett” penutup kepalanyapun ia buka. Farisha melihat seorang anak laki-laki yang sangat mirip dengan dirinya. Mata Farisha kini mulai memerah, tangannya mengepal. Ia tidak bisa berkata apapun juga. Lidahnya kelu. “Farisha, ini aku. Faris.” Katanya sambil merentangkan tangannya sebaai tanda bahwa Farisha harus berlari memeluk tubuh kakanya. “Oh.. jadi semua ini sudah di rencanakan? Apa perampokan kemarin itu juga bagian dari rencana?” tanya Farisha. Faris dan nenekpun hanya mengangguk. Namun, hal itu tidak sesuai harapan Faris, saat Farisha berlari kearahnya bukannya memeluk tapi malah menendang wajahnya dengan kemampuan bela diri yang ia miliki. Dengan senyum penuh kemengan, Farisha berhasil melampiaskan kekesalannya. Sang nenekpun hanya terkekeh melihatnya. “Kalian ini, sudah lama terpisah apa tidak rindu satu sama lain?” ujar neneknya. “Nenek, itulah simbol rindudku pada kaka tercintaku.” Jawab Farisha. Faris pun hanya terkekeh, sambil mengelap bibirnya yang sedikit mengeluarkan darah. “Dia memang tidak berubah ya.” ujarnya.

---- End -----
TQ