|
F
|
aris
dan Farisha adalah saudara kembar yang ditakdirkan hidup berpisah sejak kecil.
Faris tumbuh dalam keluarga kaya, sementara Farisha hidup dengan neneknya yang
sudah tua renta dikampung. Suatu waktu neneknya memberi tahu Farisha kalau dia
memiliki saudara kembar laki-laki, neneknya memberikan sebuah kotak berwarna
coklat. Didalamnya terdapat berbagai foto yang menggambarkan kenangan mereka
berdua waktu kecil. Neneknya menginginkan Farisha pergi ke kota untuk mencari
keberadaan kakanya untuk mengantarkan sepucuk surat dari sang nenek untuk
kakanya. Farisha pun enggan menolak, karena itu permintaan nenek yang sangat ia
sayangi sekaligus satu-satunya keluarga yang ia miliki sebelum ia menemukan
kakanya, Faris.
Kota
yang sibuk, banyak kendaraan berlalu lalang. Orang-orang sibuk dengan
pekerjaannya masing-masing. Rasa egois dimana orang-orang hampir tak peduli
dengan orang lain. Kota yang besar, tak menyurutkan niat Farisha untuk bertemu
dengan kakaknya, dengan bermodalkan alamat yang ia dapatkan dari sang nenek.
Perlahan ia mulai melangkah dari stasiun kota, menyusuri setiap jalanan di kota
besar itu. Ketika sampai di sebuah jalan bertuliskan jalan Sutan Syahrir, ia
melihat di tepi jalanan yang sepi ada seorang gadis dengan dua laki-laki
bertubuh sedang dengan mengenakan jaket kulit hitam. Setelah ia perhatikan
dengan seksama, ternyata gadis itu tengah di todong oleh seorang preman. Tanpa
pikir panjang Farisha berlari kearah mereka dengan berbekal ilmu bela diri yang
ia dapatkan dari kampung tempat tinggalnya. Tanpa rasa takut, Farisha menendang
punggung perampok itu hingga terjatuh tersungkur kedepan, namun belum sempat
terjatuh perampok yang satunya dapat menangkap tubuh temannya. “Hey Lo! Berani
Lo!” teriak perampok. “Maju sini kalo berani!”. Tantang Farisha sambil
menyincingkan lengan panjangnya sampai ke siku, kemudian bergaya kuda-kuda siap
menghantap pukulan. “Haha..” perampok itu tertawa meremehkan Farisha. “Cuman
anak perempuan ingusan. Eh Lo, minggir Lo”. Farisha tak pantang menyerah,
“Kenapa? Heh. Beraninya sama anak perempuan. Cemen!” Farisha balas mengejek.
Kedua perampok itu pun semakin geram. “Sialan Lo. Ayo serang!” mereka berlari
bersamaan kearah Farisha yang jaraknya hanya 5 meter saja. “Kyaaa” teriak
Farisha mengeluarkan jurus-jurus jitunya. “Buukk”, “Sreettt”, “Paakk”,
“Braakkk” perkelahian sedang berlangsung. Meskipun Farisha mendapat pukulan di
bibirnya hingga mengeluarkan darah tapi ia berhasil mengusir para perampok itu.
Namun gadis yang di tolongnya tadi malah sudah tidak ada di tempat. Farisha pun
melanjutkan perjalanannya dengan menganggap bahwa kejadian barusan tidak pernah
terjadi. Saat Farisha berjalan tertatih menahan rasa sakit, tiba-tiba ada
seseorang yang menyekap mulutnya dengan tisu yang sudah diberi obat bius.
Membuat tubuh Farisha merasa tidak memiliki tenaga lagi untuk melawannya. Namun
ia masih dapat merasakan kalau ia di bawa oleh beberapa orang ke sebuah mobil
dan mendudukan badannya dengan hati-hati di kursi belakang. Smar-samar ia
mendengar suara yang tidak begitu dapat ia mengerti. “Ya Tuhan.. apapun yang
terjadi pada ku saat ini, aku mohon lindungilah aku. Karena niatku di sini baik
Tuhan. hamba mohon hanya kepada-Mu” Farisha berdoa didalam hatinya dan
menyerahkan semuanya kepada Sang Pencipta.
Saat
tersadar namun belum sepenuhnya pulih, Farisha melihat sekeliling. Didapatinya
sebuah jendela kaca besar dengan tirai yang menutupi separuhnya. Menghalangi
cahaya senja masuk kedalam ruangan. Di pojokan ruangan terlihat mencolok dengan
sebuah gitar yang berdiri bersandar pada tempatnya. Dalam pikirannya sesuatu
telah terjadi padanya yang membawanya sampai pada tempat ini. di rasanya tubuh
yang terbaring di kasur yang empuk, tangannya meraba-raba tubuhnya sendiri
untuk memastikan tidak ada yang hilang dari dirinya satupun, ia pun merasa lega
dan sedikit menghela nafasnya. “Klek” suara pintu terbuka. “Hah seseorang
datang” ujarnya dalam hati. “tapi aku harus bagaimana?” Farisha kebingungan.
Mencari tempat persembunyian. Namun sayang, belum sempat ia menemukaknnya
seseorang membawa nampan berisi makanan. Belum sempat ia langsung menendang
nampan itu dengan jurus bela dirinya hingga terjatuh semua yang ada diatas
nampan tersebut. Tanpa membuang kesempatan, Farisha berlari keluar, menuruni
tangga rumah ke lantai bawah. Dengan mengendap-endap seperti cicak yang hendak
memakan mangsanya, namun tetap waspada. Ia mencoba mencari pintu keluar. “Wah
rumah ini besar sekali” ujarnya. “tapi kenapa aku bisa berada di tempat sebesar
ini? Ah.. bodo amat, yang penting aku bisa keluar dari rumah yang ngga jelas
ini.” tekadnya sudah bulat. Nyalinya sudah kuat. Terus mencari dan cari hingga
akhirnya ia menemukan pintu keluarnya. “Ah itu dia.” Tanpa pikir panjang iapun
berlari menuju kearah pintu itu, tanpa ia sadari seseorang kini tengah
memperhatikannya dari tempat lain.
“tutup
gerbangnya sekarang” kata seorang pria pada sebuah alat komunikasi seperti
walkytalky. Mendengar perintah tuannya penjaga gerbangpun dengan cepat menutup
pintu gerbang. “Loh.. loh.. aduhh.. jangan.. aku mohon jangan nutup dulu
dong..” ujar Farisha sambil terus berlari dengan sembunyi-sembunyi menuju
gerbang. Namun sial bukan kepalang, kesempatan kabur pun hanya 1% saja karena
gerbangnya sudah tertutup. “penjaga, tolong bawa dia. Eits.. tapi hati-hai.” Kata
seorang pria yang sedari tadi memperhatikan Farisha dari layar monitor di suatu
tempat. “Baik” jawab mereka setelah mendengar perintah kemudian langsung
melaksanakannya. “Nona, ayo ikut kami.” Para penjaga pun hendak membawa masuk
kembali Farisha. “Eitss.. mau apa kalian! Kalau berani maju sini!” farisha
bersiap-siap dengan gaya kuda-kudanya. “Sudah ayo cepat! Jika kau ingin
selamat.” Ancam kedua penjaga itu. “saya tidak takut. Jangan sentuh saya!”
setelah perdebatan panjang yang diakhiri dengan perkelahian dan dimenagkan oleh
Farisha. Seseorang keluar dari pintu masuk rumah besar itu yang tengah berjalan
kearahnya bersama neneknya, “nene..” Farisha kaget melihat neneknya kenapa
tiba-tiba ada disana. Dari mana mereka tahu dimana kami tinggal, bagaimana mereka
tahu aku punya nenek. Farisha semakin berpikir ngaco, ia tidak mengerti apa
yang sebenarnya yang terjadi. Neneknya tampak menggenggam sebuah tangan
seseorang disampingnya, Farusha pun memperhatikan dengan seksama dan penuh
tanya. “Siapa dia?” Bagaimana? Mengapa?” ia terus bertanya-tanya. “Sett”
penutup kepalanyapun ia buka. Farisha melihat seorang anak laki-laki yang
sangat mirip dengan dirinya. Mata Farisha kini mulai memerah, tangannya
mengepal. Ia tidak bisa berkata apapun juga. Lidahnya kelu. “Farisha, ini aku.
Faris.” Katanya sambil merentangkan tangannya sebaai tanda bahwa Farisha harus
berlari memeluk tubuh kakanya. “Oh.. jadi semua ini sudah di rencanakan? Apa
perampokan kemarin itu juga bagian dari rencana?” tanya Farisha. Faris dan
nenekpun hanya mengangguk. Namun, hal itu tidak sesuai harapan Faris, saat
Farisha berlari kearahnya bukannya memeluk tapi malah menendang wajahnya dengan
kemampuan bela diri yang ia miliki. Dengan senyum penuh kemengan, Farisha
berhasil melampiaskan kekesalannya. Sang nenekpun hanya terkekeh melihatnya.
“Kalian ini, sudah lama terpisah apa tidak rindu satu sama lain?” ujar
neneknya. “Nenek, itulah simbol rindudku pada kaka tercintaku.” Jawab Farisha.
Faris pun hanya terkekeh, sambil mengelap bibirnya yang sedikit mengeluarkan
darah. “Dia memang tidak berubah ya.” ujarnya.
----
End -----
TQ

Tidak ada komentar:
Posting Komentar